Bengkulu – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMPIT Khoiru Ummah mendadak menjadi sorotan, Jumat (3/10/25), setelah pihak sekolah memutuskan mengembalikan seluruh paket makanan kepada penyedia lantaran diduga basi dan tidak layak konsumsi.
Sejumlah menu yang seharusnya dibagikan kepada ratusan siswa terindikasi mengalami kerusakan, sehingga pihak sekolah mengambil langkah cepat dengan menahan dan mengembalikan makanan tersebut.
Kepala Sekolah SMPIT Khoiru Ummah, Putra Tunggal, menjelaskan bahwa kecurigaan muncul setelah ditemukan aroma tak sedap dan perubahan tekstur pada salah satu menu MBG.
“Dari hasil pemeriksaan, ada bau tidak sedap, lengket, dan berair. Itu indikasi kuat makanan tidak layak konsumsi,” ungkap Putra, dikutip dari radar, Sabtu (4/10/25).
Ia menegaskan, keputusan tersebut diambil demi keselamatan siswa agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan kesehatan.
“Kami putuskan makanan tidak dibagikan dan kami kembalikan ke penyedia,” tegasnya.
Adapun menu MBG hari itu terdiri dari telur rebus, susu, buah, serta somay dengan tambahan bakso. Berdasarkan pemeriksaan internal sekolah, bakso somay menjadi item yang terindikasi bermasalah.
“Sejak dua bulan terakhir kami menerima program ini, baru kali ini terjadi masalah seperti ini,” jelas Putra.
Sebanyak 338 paket MBG akhirnya dikembalikan seluruhnya ke penyedia, sementara pihak sekolah mengimbau wali murid agar menyiapkan bekal tambahan dari rumah.
“Anak-anak dijadwalkan belajar sampai sore pukul 17.00 WIB, jadi kami imbau orang tua menyiapkan bekal tambahan,” kata Putra.
Pihak sekolah juga langsung memberikan informasi kepada para wali murid untuk menenangkan kekhawatiran dan memastikan tidak ada dampak negatif terhadap kegiatan belajar siswa.
“Kami sudah sampaikan agar orang tua bisa mendukung kebutuhan makan anak-anak,” ujarnya.
Program Makanan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan gizi siswa dan telah berjalan rutin setiap hari selama dua bulan terakhir di SMPIT Khoiru Ummah. Namun, insiden ini menimbulkan pertanyaan terkait kontrol kualitas dari penyedia makanan.
“Kami berharap ke depan penyedia lebih teliti. Program ini sangat bermanfaat, tapi harus dijaga kualitasnya,” tutup Putra Tunggal.










